Abrasi Pantai Terjadi Enam Kali Dalam Tiga Tahun, BPBD Banggai Catat Puluhan Rumah Warga Rusak

Gerbangsulawesi.com, LUWUK – Sepanjang periode 2022 hingga 2025, wilayah pesisir Kabupaten Banggai tercatat mengalami enam kali kejadian abrasi pantai. Bencana tersebut tidak hanya menggerus garis pantai, tetapi juga berdampak langsung pada permukiman warga serta sejumlah fasilitas umum.Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Banggai, sedikitnya 150 warga terdampak akibat abrasi pantai tersebut. Selain itu, puluhan rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan dengan kategori ringan hingga berat. Sabtu, (28/02/2026).Fery Sujarman menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah cepat dan strategis dalam merespons setiap kejadian abrasi yang terjadi di wilayah pesisir.Enam Kejadian Abrasi PantaiPeristiwa abrasi pertama tercatat pada 10 Januari 2022 di Kelurahan Nambo Bosaa, Kecamatan Nambo. Sebanyak 28 warga terdampak, dengan tujuh unit rumah mengalami rusak berat. Pada kejadian tersebut, BPBD Banggai menyalurkan bantuan logistik berupa pangan dan sandang kepada warga terdampak.Masih di tahun yang sama, abrasi kembali terjadi pada 19 Mei 2022 di Desa Moilong, Kecamatan Moilong. Dampaknya terbilang lebih besar, dengan 52 warga terdampak dan 13 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari empat rumah rusak berat dan sembilan rumah rusak ringan. Abrasi juga berdampak pada area Tempat Pemakaman Umum (TPU). Sebagai tindak lanjut, dilakukan pembangunan talud pengaman pantai untuk menahan laju abrasi.Setelah tidak tercatat kejadian abrasi sepanjang 2023, bencana serupa kembali terjadi pada 2024 di tiga lokasi berbeda. Pada 9 Maret 2024, abrasi melanda Kelurahan Bungin, Kecamatan Luwuk, dengan delapan warga terdampak dan dua rumah mengalami rusak ringan.Selanjutnya, pada 14 Mei 2024, abrasi terjadi di Desa Sayambongin, Kecamatan Nambo. Sebanyak 13 warga terdampak dan tiga rumah dilaporkan mengalami rusak ringan. Kemudian, pada 23 Mei 2024, abrasi kembali menerjang Desa Lamo, Kecamatan Batui, mengakibatkan 24 warga terdampak serta empat rumah mengalami rusak ringan.Pada ketiga kejadian tersebut, BPBD Banggai melakukan asesmen dan kaji cepat guna menentukan langkah penanganan lanjutan yang diperlukan.Peristiwa abrasi terakhir terjadi pada 7 November 2025 di Kelurahan Bunta II, Kecamatan Bunta. Dalam kejadian ini, 25 warga terdampak dan 10 rumah mengalami kerusakan ringan. BPBD kembali menyalurkan bantuan logistik untuk meringankan beban warga terdampak.Fokus Mitigasi dan KesiapsiagaanFery Sujarman menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya berfokus pada penanganan pascakejadian, tetapi juga memperkuat upaya mitigasi serta koordinasi lintas sektor guna meminimalisir risiko abrasi di masa mendatang.“Kami terus melakukan pemantauan di wilayah pesisir yang rawan abrasi, serta berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa agar masyarakat tetap waspada,” ujarnya.Abrasi pantai kini menjadi ancaman nyata bagi kawasan pesisir Kabupaten Banggai. Dengan kondisi cuaca ekstrem dan dinamika alam yang sulit diprediksi, kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam melindungi keselamatan warga dan infrastruktur. Pemerintah daerah pun diharapkan terus memperkuat langkah mitigasi jangka panjang agar dampak abrasi tidak semakin meluas. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *